Dewan Mahasiswa UNS

Lembaga Legislatif Mahasiswa Universitas Sebelas Maret

Parpol Bukan Karung Wakil Rakyat

Genderang pemilu telah ditabuh. Partai-partai telah memperoleh nomor urut masing-masing guna bertarung dalam pemilu mendatang. Masa kampanye yang sangat panjang, Sembilan bulan seperti usia rata-rata ibu hamil, siap dimanfaatkan parpol-parpol untuk meningkatkan popularitas mereka. Di tengah euforia pesta demokrasi 5 tahunan ini, rakyat masih saja bingung dengan berbagai permasalahan serta tekanan hidup yang ada. Timbul satu pertanyaan yang harus ditemukan jawabannya oleh parpol manapun. Apakah keberadaan Parpol-parpol tersebut, yang berjumlah 38 itu, mampu membuat kehidupan rakyat menjadi lebih baik?

Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berbagai pemberitaan di media massa mengenai penangkapan beberapa anggota dewan oleh KPK. Mulai dari kasus Al Amin Nasution dalam alih fungsi hutan di daerah Bintan yang bermasalah, Bulyan Royan dengan kasus pengadaan kapal patroli Departemen pehubungan laut, Amir Faisal yang terjerat kasus alih fungsi hutan daerah Tanjung Si Api-ap, dan yang terbaru kasus korupsi anggota DPR dari Fraksi PAN dalam pembangungan bandara di wilayah Indonesia Timur. Belum lagi kasus skandal foto yang menimpa anggota Dewan dari fraksi PDI P Max Moein. Meskipun DPR memiliki Badan Kehormatan(BK), yang selalu mengatakan akan menindak para anggota dewan yang lalai, rakyat sudah mulai skeptis terhadap kinerja anggota Dewan. Citra mereka di mata rakyat sudah sedemikian jatuh. Rakyat mulai ragu apakah para anggota Dewan yang terhormat itu benar-benar memperjuangkan aspirasi mereka. Lembaga yang semestinya mengontrol kinerja eksekutif dan memperjuangkan aspirasi rakyat, kini hanya menjadi tempat tarik ulur kepentingan serta ajang persekongkolan perampasan uang rakyat. Harapan bangsa ini pada pemerintah teramat besar. Sudah saatnya para koboi Senayan bangun dari keterpurukan dan segera berbenah demi nasib rakyat negeri ini.

Pemilu 2009 dapat menajadi momentum yang tepat bagi parpol untuk berbenah diri. Salah satu tujuan pemilu adalah untuk memungkinkan terjadinya pergantian pejabat yang akan mewakili kepentingan rakyat di lembaga perwakilan(Jimly Asshidiqie dalam pengantar Hukum Tata Negara hal.175). Melalui pemilu yang akan datang, parpol dapat mengembalikan citranya agar dipercaya kembali oleh rakyat untuk menempatkan kadernya di parlemen. Waktu Sembilan bulan kampanye sangat cukup bagi parpol untuk meyakinkan rakyat agar memilih mereka. Parpol harus menawarkan sesuatu yang baru bagi rakyat yang sudah mulai luntur kepercayaannya. Kampanye yang dilakukan harus seefektif mungkin untuk mengimbangi pemberitaan yang semakin menyudutkan para wakil rakyat, yang notabene adalah kader-kader parpol. Jangan sampai angka golput meningkat hanya gara-gara para wakil rakyat tidak mampu menunjukkan kinerja yang baik dan justru menjadi aib bagi negeri ini.

Parpol Sebagai Karung

Selama ini dalam pemilu legilatif, rakyat hanya disodori nama-nama yang sebagian besar asing bagi mereka. Rakyat hanya mengenal parpol pengusung, tanpa tahu siapa yang akan mewakili kepentingan mereka. Ibaratnya rakyat hanya ditawari “karung” yang berwarna-warni, tanpa tahu wujud kucing yang berada di dalamnya. Beruntung bila kucing yang terpilih bagus dan bersih, dan apes bila yang terpilih kucing garong yang senang menghabiskan makanan sang majikan. Karung adalah parpol, para caleg adalah kucing, dan rakyat adalah pembeli yang kelak akan menjadi majikan bagi si kucing. Oleh karena itu, agar “pembeli” tidak kecewa, “penjual” harus memilih dengan hati-hati kucing yang akan dimasukkan dalam karungnya.

Dengan semakin dekatnya pemilu, caleg-caleg berlomba-lomba berkampanye membuai konstituennya dengan janji-janji surga. Di beberapa daerah, berbondong-bondong orang datang ke tempat kampanye. Hal ini cukup menarik untuk kita cermati. Apakah motivasi para caleg yang sedemikian antusias jor-joran mensosialisasikan diri adalah murni karena tergerak mewakili kepentingan rakyat atau hanya sekedar mencari “kesempatan” untuk mendapatkan berbagai kemewahan dan pengaruh yang dapat dinikmati ketika duduk di parelemen. Kita memang tidak boleh pesimis dan menganggap semua caleg tidak memiliki motivasi tulus. Namun pemikiran-pemikiran semacam itu tidak dapat kita nafikan. Rakyat memang hanya dapat memilih dan berdoa semoga pilihannya tepat. Akan tetapi parpol mampu berbuat lebih. Salah satu fungsi parpol menurut Miriam Budiarjo adalah sebagai political recruitment atau rekruitmen politik(Miriam Budiarjo dalam Dasar-dasar Ilmu Politik hal.163). Partai dibentuk untuk menjadi kendaraan yang sah dan menyeleksi kader kader pemimpin Negara pada jenjang-jenjang serta posisi tertentu, salah satunya adalah anggota parlemen.

Oleh karena itu Parpol lah yang dapat menjadi filter awal pencegah masuknya kucing garong masuk ke senayan. Sistem seleksi dalam parpol harus dilakukan sebersih dan seobyektif mungkin. Parpol harus dapat menyeleksi para caleg mereka berdasarkan kapabilitas mereka. Dan yang teramat penting, parpol harus bisa memilih caleg yang bermoral dan tulus membela kepentingan rakyat. Jangan sampai ada tawar menawar harga demi sebuah kursi empuk senayan. Dengan begitu diharapkan rakyat tidak akan tertipu lagi. Bila setiap parpol melakukan sistem seleksi yang bersih, rakyat tidak akan khawatir dalam memilih. Karena semua caleg yang ada sudah kapabel dan profesional.

Sudah saatnya paradigma parpol diubah. Rakyat sudah muak dan eneg dengan janji-janji yang diapungkan oleh parpol-parpol yang ada. Dalam kampanye yang sedemikian panjang ini, parpol diharapkan bisa menunjukkan wajah baru dan membuktikan pada rakyat kalau mereka memang bersih dan pantas untuk dipilih. Konvoy motor, konser dangdut, dan bagi-bagi sembako, tidak cukup untuk mengembalikan simpati rakyat terhadap parpol yang ada. Menjadi PR bagi setiap parpol untuk menampilkan wajah parpol yang baru dan bersih dari segala kepentingan sesaat. Jangan sampai parpol menjadi “karung” tempat “bersembunyi” para kucing garong yang siap menggasak uang rakyat. Parpol bukanlah karung, akan tetapi sebagai wadah untuk memproses serta menciptakan para pemimpin handal yang mampu mengemban harapan rakyat. Dan dengan pemimpin-pemimpin amanah yang dihasilkan parpol tersebut, tentu saja berimbas pada nasib rakyat yang semakin membaik. Apapun parpolnya, berapapun jumlahnya, bila mereka mampu menghasilkan para pemimpin yang amanah, maka rakyat akan senantiasa memberikan kepercayaannya.

Yuzril Ihza Mahendra

Mahasiswa Fakultas Hukum UNS

Anggota Komisi PAKP DEMA UNS

Add A Comment